Thursday, 31 December 2009

10 Album Indonesia Terbaik versi Apres!

Untuk urutan 4-10 memiliki tingkatan yang sama :


1. Angels & The Outsiders - Superman Is Dead

2. Lantai Merah - Monkey To Millionaire

3. My First Love - Vierra

4. Balada Joni & Susi - Melancholic Bitch

5. OST Pintu Terlarang - Various Artists

6. The Headless Songstress - Tika & The Dissidents

7. Friday - RAN

8. Rasuk - The Trees and The Wild

9. Gemini - Sherina

10. The Sophomore - Pee Wee Gaskins

Tunggu reviewnya segera!!

Saturday, 26 December 2009

30 Seconds to Mars - This Is War

oleh : Arif Nugraha R.
Setelah empat tahun band asal Los Angeles 30 Seconds to Mars merilis "A Beautful Lie" pada tahun 2005 lalu, kini band tersebut merilis album terbaru mereka "This Is War" pada bulan Desember 2009 ini. "Escape" adalah lagu pembuka dengan suara vokal yang begitu minim, suara - suara aneh menghantui dan dentuman drum yang berat mengawali perjalanan anda untuk mendengar album ini. Setelah beberapa menit nuansa ambience, lagu ke dua "Night Of The Hunter" langsung diputar. Ini adalah salah satu lagu terbesar dan terbaik dari album ini. Lagu ini, bersama single lain seperti "Kings and Queens", menampilkan ciri khas dari 30 Seconds to Mars dengan lirihnya vokal dari Jared Leto. Dalam "Kings and Queens", 30 Seconds to Mars terdengar seperti campuran antar U2 dengan Angels and Airwaves tetapi diiringi irama punk rock.

Dalam " This is war", vokal Leto dibantu oleh backing group yang terdiri dari ratusan pengemar yang mendatangi preview album dan direkam untuk digunakan di album pada awal tahun 2009. Backing vokal yang terdengar sangat akbar dapat didengar di hampir seluruh track dan membuat track tersebut terdengar lebih keren dari rekaman biasa. Band ini juga mengadakan kompetisi yang mengizinkan foto dari para penggemarnya untuk dijadikan cover album.

"This Is War" adalah album yang akan menyenangkan para penggemarnya, baik itu yang baru maupun yang lama. Album ini menggabungkan berbagai macam suara dari dua album yang sebelumnya dirilis, tapi sedikit lebih progresif. Momen -momen progresif dapat ditemukan di track "Stranger in a Strange Land" dan "L490".

Kesimpulannya, "This Is War" tidak mengecewakan. Album ini patut didengar baik untuk penggemar 30 Seconds to Mars maupun para pencinta musik biasa. Mereka terdengar sama seperti di album "A Beautiful Lie", tapi terdengar lebih epik dan masif, terima kasih kepada dukungan fans yang menyumbang suara di album ini.

Track yang wajib di dengar : "Kings and Queens", "Night of the Hunter", "This Is War", "100 Suns", "Stranger in a Strange Land", "L490".

Thursday, 17 December 2009

Talkshow "Industri Musik" dengan Saska dan Eca on ITB Fair


4 Desember 2009, Panitia ITB Fair mengadakan Talkshow tentang "Industri Musik di Indonesia" di Campus Centre ITB. Saska (EL 03) dan Echaboy (IF 04/ Cerpintaxt) dari Apres menjadi pembicara pada talkshow ini.

Saska dan Echa membahas rumitnya industri musik di Indonesia seperti maraknya pembajakan, kebutuhan pasar, rintangan-rintangan ketika band memasuki industri musik,serta susahnya Band-band Indonesia untuk menjadikan musik sebagai penghasilan utama.

Pada Talkshow ini Saska dan Echa menekankan, Band-band baru di Indonesia harus kreatif dalam menjual karyanya agar tidak tenggelam oleh pembajakan, label yang "pasar oriented",dll. Mereka juga menekankan, yang penting dalam bermusik adalah semangat berkarya sehingga para musisi dapat mengekspresikan musiknya dan menghasilkan karya yang kreatif. Mereka berpendapat, jika musisi hanya berorientasi pada uang/pasar saja, mereka tidak akan menghasilkan karya yang kreatif,sehingga musik di Indonesia menjadi monoton.

Talkshow ini ditutup oleh penampilan band apres,"Fruits & Salads".


Maju terus musik Indonesia!!!

--oleh Divisi Media

Friday, 11 December 2009

MANDELA DESEMBER

Friday, 4 December 2009

Wawancara dengan Andy F Noya @ Music Biz

Kenapa sih, bapak tertarik dengan dunia jurnalistik?

Karena sedari SD nilai saya di pelajaran mengarang itu terbilang tinggi, dan guru saya sangat mendukung saya dan menyebutkan bahwa saya itu cocok jadi wartawan. Sejak saat itu seakan kepala saya dipenuhi dengan cita-cita wartawan. Bahkan saat saya masuk STM atas saran orang tua saya, kok rasanya nggak cocok. Makanya saya akhirnya cari jalan untuk bisa kuliah jurnalistik untuk mewujudkan cita-cita saya tersebut.

Menurut bapak, apa sih, hubungannya bisnis musik dengan jurnalistik?


Tanpa jurnalistik, musik dan hal-hal semacamnya tidak akan berkembang. Media itu fungsinya sebagai penyampai pesan dan informasi kepada masyarakat luas tentang musik-musik baru, dan pada akhirnya masyarakat bisa memilih musik jenis apa yang mereka bisa apresiasikan.

Jadi media itu semacam penengah antara produsen musik dengan pendengarnya ya, Pak?

Iya. Media berperan sebagai medium.

Menurut Bapak, bagaimana perkembangan bisnis musik di Indonesia sekarang ini, terutama dengan menjamurnya indie label?

Kalau dulu, perkembangan musik itu signifikan, di mana selera ditentukan oleh label, seakan label memaksa para pencipta musik untuk berarya sesuai dengan selera pasar. Kalau sekarang, dengan adanya musisi-musisi independent, peran dari label semakin berkurang, dan kreativitas-kreativitas baru pun lahir tanpa adanya dikte akibat alasan finance. Jadi musik yang ditampilkan juga lebih berasal dari hati.

Kami kan mahasiswa nih, Pak. Kira-kira apa yang bisa kami lakukan untuk mengembangkan bisnis musik sejak dini?


Yang jelas kita harus bertanya pada diri kita sendiri dulu, apakah musik benar-benar lentera jiwa kita, apakah keinginan untuk serius bermusik tersebut berasal dari hati. Setelah benar-benar yakin, diperlukan adanya pengenalan jenis musik. Musik apa yang mau kita tekuni nantinya. Setelah itu perluas pengetahuan tentang industri musik. Tentunya musik yang dihasilkan oleh mahasiswa haruslah musik yang intelek dan bermutu, dibandingkan dengan musik dari orang-orang yang notabene kurang pendidikan.

Terakhir nih, Pak. Apa harapan Bapak bagi perkembangan musik di Indonesia?


Seperti yang tadi saya bilang, saya harap musik di Indonesia bukanlah musik yang sekedar menghibur, bahkan malah membuat para pendengarnya mengurung diri di kamar karena musik tersebut. Saya berharap musik dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Yang dimaksud dari peningkatan kualitas hidup ini contohnya dilihat dari lirik yang membangun dan mencerahkan, bukan malah membuat orang-orang yang mendengarnya semakin frustasi.

Oke, Pak. Terimakasih atas waktunya!


Sip!

Wawancara dengan Fariz RM @ MUSIC BIZ

Apa sih, yang membuat Bapak tertarik untuk berkecimpung di dunia musik?

Jangan panggil bapak, lah. Kesannya tua banget. Panggil mas aja.

Oh, iya. Hehe.. Apa sih, yang membuat Mas Fariz ingin serius di bidang musik?

Sedari balita, entah kenapa saya emang cuma pengen bermusik. Pokoknya saya pengen nge-band. Mulai profesionalnya baru saat saya sekitar umur 17 tahunan, itu sekitar tahun 1977. Terus baru solo karirnya tahun 1980.

Mas Fariz kan meng-compose lagu selain buat diri sendiri, juga buat orang lain. Apa sih, bedanya?

Nah, kata composing sendiri itu artinya mengatur sebuah komposisi. Yah, seperti saat di seni rupa, segalanya itu adalah tentang komposisi. Dan inspirasi itu ya nggak dipaksa datang, ya datang sendiri, di-compose, dan jadilah sebuah lagu. Nah bedanya itu, kalo meng-compose buat orang, kita harus kompromi, yah 60:40 lah, 60 buat orang yang dibuatin lagu, 40 buat identitas saya sebagai composer. Nah kalo meng-compose buat diri sendiri, kebalikannya. 60-nya itu ya buat diri sendiri. Jadi lebih bebas aja.

Bagaimana pendapat Mas Fariz kalo kami, sebagai mahasiswa, mau mengembangkan bisnis bermusik dari sekarang?

Musik itu nggak kenal waktu. Begitu kita memulai, dan bisa menjalaninya, ya bagus! Semakin dini kita memulai, rentang karier kita kan akan semakin panjang. Jadi semakin dini, ya malah semakin baik.

Kalau soal industri musik di Indonesia sendiri, gimana tanggapan Mas tentang hal itu?

Sebenarnya bisnis musik itu masih terbilang baru di Indonesia. Adanya buku “Music Biz” yang sangat detail ini sangat menggambarkan hal-hal yang memang diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang musik. Dan bagusnya buku ini, dia tidak hanya mengajarkan cara berbisnis lewat musik, tapi juga cara pengaplikasiannya di Indonesia. Karena seperti yang saya bilang tadi, bisnis musik di Indonesia masih tergolong muda.

Apa sih, harapan Mas Fariz untuk industri musik di Indonesia?

Saya berharap lebih banyak diadakan kegiatan-kegiatan seperti ini yang memberikan ruang yang lebih detail untung orang-orang yang memang mau berkarir di bidang musik. Adanya acara-acara yang menjembatani antara musisi senior dan junior, seperti acara Jakarta Atmosphere yang menampilkan White Shoes and The Couples Company feat. Fariz RM, dan kolaborasi musisi senior-junior lainnya juga dapat dijadikan referensi untuk bermusik lintas generasi, jadi tidak ada jarak antara musisi junior dan senior karena sifat musik itu sendiri universal, tidak mengenal dia itu umur berapa, statusnya apa, dan lain-lain. Selamanya saya akan mendukung acara-acara seperti ini, karena saya sangat percaya akan adanya regenerasi. Kalau tidak mulai dari sekarang, kapan lagi?

MUSIC BIZ

Di hari Senin yang cerah, majalah RollingStone (tanpa huruf ‘s’ – RED) Indonesia bekerja sama dengan apr├Ęs! (yeaahhss! – RED lagi) mengadakan suatu acara yang luar biasa bertajuk “Music Biz.” Acara yang bertujuan untuk mempromosikan buku pertama terbitan majalah RollingStone Indonesia sekaligus membuka wawasan para calon-calon musisi di Indonesia untuk serius berkecimpung di bidang musik ini dipandu oleh Andy F. Noya, selaku CEO dari majalah tersebut. Dibuka dengan diskusi tentang perkembangan bisnis musik di Indonesia (yang ujung-ujungnya membahas pembajakan hak cipta juga – ini RED lagi lhoo) oleh Wendi Putranto (penulis buku “Music Biz”), James F. Sundah (pencipta lagu “Lilin-Lilin Kecil”), dan Fariz RM (tentunya kita tahu siapa dia). Diskusi berlangsung cukup seru dengan tanggapan-tanggapan yang cukup baik dari para penonton, dilihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan pada sesi tanya jawab. Diskusi ditutup dengan penampilah dari dua band audisi Yamaha Music Competition (yang penulis lupa namanya – RED) dan tentunya… ENDAH N RHESA!! Penampilan dari dua band sebelum Endah N Rhesa cukup memukau dan mendapat tanggapan yang juga cukup positif dari penontonnya. Gitaris dari band pertama juga sempat memamerkan skill-nya bersama-sama dengan teman-teman satu band-nya saat diminta bermain solo satu persatu. Selanjutnya Endah N Rhesa tampil dengan sangat memukau! Permainan gitar Endah dan bass Rhesa yang saling beriringan ditambah dengan permainan vokal dari Endah yang sangat interaktif seakan menyihir seluruh penonton untuk fokus kepada penampilan mereka dan memutuskan untuk membeli CD mereka sesegera mungkin. Bahkan Fariz RM pun memuji permainan musik mereka dengan memberi isyarat “worship” setelah penampilan mereka yang kedua. Benar-benar luar biasa! Usai penampilan Endah N Rhesa, penonton diberi satu kejutan lagi yaitu penampilan dari Fariz RM! Dengan umur yang sudah tak terbilang muda (dibandingkan dengan kita, hehe – RED yang banyak komentar) Fariz RM masih tampil dengan sangat atraktif dan enerjik. Warna suaranya pun masih tak jauh berbeda dengan suaranya saat ia masih merintis karir. Inilah salah satu legenda musik Indonesia yang patut diteladani karena kesetiaannya terhadap musik. For Your Information, Fariz RM itu anak ITB lhoo.. Hehehe.. Sayangnya, acara sekeren dan sebermutu ini masih terbilang sepi, mungkin karena kurangnya publikasi, mungkin juga karena pihak RollingStone Indonesia yang cukup dadakan memberikan materi ini. Hmm.. Sudahlah, yang penting kita semua sudah semakin terbuka wawasannya tentang perkembangan bisnis musik di Indonesia, menikmati penampilan musisi-musisi ciamik, dan tentunya, dapet buku “Music Biz” gratisan.. Hehe.. Dukung terus musisi lokal! Terutama Independen! Ingat! Kata Efek Rumah Kaca, pasar itu bisa diciptakan! Huahahahahaha!!